City of Paper: Bab 1
February 24, 2026
Di tengah guyuran hujan seorang pria berdiri untuk menyaksikan
sekitarnya sementara tangannya memegang tongkat sihir. Wajahnya terlihat gahar
dan penuh luka, tampaknya dari pertempuran lama.
Suara ombak yang menghantam mercusuar tidak kunjung berhenti. Dia tetap
menatap tajam ke depannya. Menerobos gelap dan dinginnya malam itu.
Sementara di tempat lain, beberapa orang terlihat terburu-buru.
Masing-masing dari mereka mengenakan jaket kulit berwarna hitam, seolah bagian
dari identitas. Mereka berjalan cepat dengan langkah yang kuat.
Di tempat itu, hujan juga sudah turun bersama badai. Tiga orang di
belakang saling menatap satu sama lain, saling mendoakan semoga mereka kembali
dengan selamat sebelum akhirnya melompat dari gedung tertinggi di pusat kota.
Dalam hitungan detik, sebelum menyentuh tanah, beberapa sapu terbang
menghampiri mereka.
Seolah sudah terbiasa, lima orang itu berhasil menaiki sapu terbang
tanpa kendala apapun.
Mereka terbang dengan sangat cepat menembus badai. Tujuannya adalah
mercusuar di tengah laut. Ada penjahat kejam yang sudah bertahun-tahun belakang
mereka intai.
Dengan kecepatan maksimal, kelimanya akhirnya tiba di mercusuar, tempat
seorang pria dengan wajah penuh luka sedang menunggu. Mereka berhenti,
mengamati dari atas sapu terbang masing-masing. Bertindak impulsif bukan
tindakan yang tepat. Pria yang dihadapi adalah seorang buronan paling dicari
oleh Kementerian Pertahanan berbagai negara, termasuk Espion. Namun, hanya AIO
yang berhasil menyelusuri jejaknya.
Salah satu pria berteriak.
“Letakkan tongkatmu di tanah dan letakkan tanganmu di belakang kepala.”
Meski hujan dan petir menggelegar, tapi suara itu terdengar cukup
jelas.
Pria itu tertawa dan mengayunkan tongkatnya. Mereka tidak pernah
berharap jika buronan di depannya akan menyerah semudah itu.
“Adoste,” gumam pria itu lalu muncul percikan cahaya dari
tongkat sihir mengarah pada lima pasukan AIO. Cahaya berwarna jingga yang
membentuk pola seperti cambuk.
Salah seorang gadis yang sedari tadi mengamati menukik tajam ke kiri
untuk menghindari lecutan hingga tubuhnya terbalik. Dia berpegang kuat pada
pegangan sapu sementara dua orang telah jatuh.
Beberapa yang tersisa merasa penyergapan malam itu sama sekali tidak
menguntungkan. Meski menang jumlah, tapi mereka tetap kalah. Mereka butuh
pasukan tambahan, tapi tidak akan mungkin terjadi. Mendapatkan izin untuk
melakukan penyergapan di negara orang sudah jadi hal yang luar biasa.
Gadis itu tidak menyerah. Dia memutar kembali sapu terbangnya. Terbang
tajam ke arah kanan.
Di belakangnya, perempuan lain memahami tindakan sang rekan kerja dan
memberi perlindungan tambahan. Saat perhatian pria di mercusuar teralihkan,
gadis itu memberi serangan dengan berani.
“Vetra Vendos,” ujarnya tanpa ampun dan semakin mendekat pada
mangsanya.
Satu mantra mengenai tangan kanan dari pria itu hingga membuatnya harus
menjatuhkan tongkat ke lantai.
Satu sambaran kilat muncul saat dia mendekat. Mata keduanya saling
bertemu, dan sang pria terlihat menyeringai. Tidak tampak seperti buronan yang
terpaksa harus menyerah. Melainkan senyum dari orang yang menginginkan
penangkapan dirinya.
“Matamu sangat mirip ayahmu, sayang. Kamu tahu itu?” ucap penjahat itu sebelum
akhirnya anggota keamanan lain datang untuk mengamankan.
Setelah buronan itu dibawa pergi, tinggal gadis itu sendiri di tempat
sang buronan berdiri. Ia menatap ombak besar yang menghantam di bawah sana.
Sementara itu, di hatinya, ada perasaan marah dan tidak nyaman.
Ia ingat, 20 tahun lalu, ibunya juga mengatakan hal yang sama sebelum
mengangkat tas untuk pergi dan berakhir tidak pernah kembali.
0 comments