City of Paper: Bab 1

Di tengah guyuran hujan seorang pria berdiri untuk menyaksikan sekitarnya sementara tangannya memegang tongkat sihir . Wajahnya terlihat g...

Di tengah guyuran hujan seorang pria berdiri untuk menyaksikan sekitarnya sementara tangannya memegang tongkat sihir. Wajahnya terlihat gahar dan penuh luka, tampaknya dari pertempuran lama.

Suara ombak yang menghantam mercusuar tidak kunjung berhenti. Dia tetap menatap tajam ke depannya. Menerobos gelap dan dinginnya malam itu.

Sementara di tempat lain, beberapa orang terlihat terburu-buru. Masing-masing dari mereka mengenakan jaket kulit berwarna hitam, seolah bagian dari identitas. Mereka berjalan cepat dengan langkah yang kuat.

Di tempat itu, hujan juga sudah turun bersama badai. Tiga orang di belakang saling menatap satu sama lain, saling mendoakan semoga mereka kembali dengan selamat sebelum akhirnya melompat dari gedung tertinggi di pusat kota. Dalam hitungan detik, sebelum menyentuh tanah, beberapa sapu terbang menghampiri mereka.

Seolah sudah terbiasa, lima orang itu berhasil menaiki sapu terbang tanpa kendala apapun.

Mereka terbang dengan sangat cepat menembus badai. Tujuannya adalah mercusuar di tengah laut. Ada penjahat kejam yang sudah bertahun-tahun belakang mereka intai.

Dengan kecepatan maksimal, kelimanya akhirnya tiba di mercusuar, tempat seorang pria dengan wajah penuh luka sedang menunggu. Mereka berhenti, mengamati dari atas sapu terbang masing-masing. Bertindak impulsif bukan tindakan yang tepat. Pria yang dihadapi adalah seorang buronan paling dicari oleh Kementerian Pertahanan berbagai negara, termasuk Espion. Namun, hanya AIO yang berhasil menyelusuri jejaknya.

Salah satu pria berteriak.

“Letakkan tongkatmu di tanah dan letakkan tanganmu di belakang kepala.”

Meski hujan dan petir menggelegar, tapi suara itu terdengar cukup jelas.

Pria itu tertawa dan mengayunkan tongkatnya. Mereka tidak pernah berharap jika buronan di depannya akan menyerah semudah itu.

Adoste,” gumam pria itu lalu muncul percikan cahaya dari tongkat sihir mengarah pada lima pasukan AIO. Cahaya berwarna jingga yang membentuk pola seperti cambuk.

Salah seorang gadis yang sedari tadi mengamati menukik tajam ke kiri untuk menghindari lecutan hingga tubuhnya terbalik. Dia berpegang kuat pada pegangan sapu sementara dua orang telah jatuh.

Beberapa yang tersisa merasa penyergapan malam itu sama sekali tidak menguntungkan. Meski menang jumlah, tapi mereka tetap kalah. Mereka butuh pasukan tambahan, tapi tidak akan mungkin terjadi. Mendapatkan izin untuk melakukan penyergapan di negara orang sudah jadi hal yang luar biasa.

Gadis itu tidak menyerah. Dia memutar kembali sapu terbangnya. Terbang tajam ke arah kanan.

Di belakangnya, perempuan lain memahami tindakan sang rekan kerja dan memberi perlindungan tambahan. Saat perhatian pria di mercusuar teralihkan, gadis itu memberi serangan dengan berani.

Vetra Vendos,” ujarnya tanpa ampun dan semakin mendekat pada mangsanya.

Satu mantra mengenai tangan kanan dari pria itu hingga membuatnya harus menjatuhkan tongkat ke lantai.

Satu sambaran kilat muncul saat dia mendekat. Mata keduanya saling bertemu, dan sang pria terlihat menyeringai. Tidak tampak seperti buronan yang terpaksa harus menyerah. Melainkan senyum dari orang yang menginginkan penangkapan dirinya.

“Matamu sangat mirip ayahmu, sayang. Kamu tahu itu?” ucap penjahat itu sebelum akhirnya anggota keamanan lain datang untuk mengamankan.

Setelah buronan itu dibawa pergi, tinggal gadis itu sendiri di tempat sang buronan berdiri. Ia menatap ombak besar yang menghantam di bawah sana.

Sementara itu, di hatinya, ada perasaan marah dan tidak nyaman.

Ia ingat, 20 tahun lalu, ibunya juga mengatakan hal yang sama sebelum mengangkat tas untuk pergi dan berakhir tidak pernah kembali.


You Might Also Like

0 comments