City of Paper Bab 1: Part 2
March 10, 2026
Alana baru saja keluar dari apartemen kecilnya ketika angin segera
menyambutnya. Terlalu dingin, pikirnya. Jika bukan karena urusan penting yaitu
pekerjaan, sudah pasti dia akan sangat malas untuk keluar rumah.
Tampaknya, Alana bukan satu-satunya orang yang memikirkan hal itu.
Buktinya, meski hari itu sangat berangin, tapi jalanan pagi itu masih terlihat
cukup ramai.
Selain jalanan yang ramai, langit pagi itu juga tampak gelap karena
mendung dan orang-orang tampak sibuk dengan urusannya masing-masing. Di salah
gedung terpampang jelas gambar seorang pria paruh baya. Alana mengenalnya
sebagai salah satu politikus ternama di Espion.
Sebenarnya, Alana tidak terlalu tertarik dengan politik, jadi
kekasihnya, Jade adalah seorang putra dari Adams Vaugh, kakak dari Perdana
Menteri saat ini. Sementara itu, bibinya, Sloane Xeleste adalah seorang
jurnalis politik dari surat kabar harian
Daily Line. Meski bukan surat kabar besar, bahkan terbilang kecil, dalam
artian jika tidak mnegetahuinya, tidak semua orang tahu.
Saat kecil hingga remaja, selama libur sekolah, Alana terkadang membaca
koran yang di bawa oleh bibinya. Sebaliknya, Alena, saudara kembar Alana,
sangat tertarik dengan politik, itu sebabnya saat ini Alena bekerja di
Kementerian Pertahanan, tepatnya Astral Intelligent Office. Divisi yang
menangani kejahatan sihir lintas negara. Menurut Alana, pekerjaan itu sangat cocok
untuk Alena. Saudarinya itu, sangat berani, lugas, dan cerdas.
Sebaliknya, Alana mengakui dirinya kebalikan dari Alena. Alana
cenderung pendiam dan hidup dengan beradaptasi sesuai keadaan. Meski tidak
kalah pintar dari Alena, di sekolah, Alana hanyalah murid pintar yang
berprestasi selama sekolah. Berkat itu, Alana dikenal oleh para guru.
Sementara Alena berbeda, Alena suka membuat keributan dengan para teman
sekolahnya hingga membuat kekacauan di sekolah, karena itu para guru mengenal
Alena.
Mendadak, Alana merindukan saudara kembarnya yang sudah berbulan-bulan
berada di luar negeri.
Angin masih berhembus dengan kuat, membuat Alana terpaksa harus
mengencangkan blazer yang ia kenakan. Sebelum menuju Elbonume, tempat ia
menjadi pustakawan selama beberapa tahun terakhir, Alana ingin singgah ke kedai
kopi sebentar.
Setiap pagi, dia selalu ikut dalam antrean untuk membeli segelas kopi
susu. Kedai itu tepat di depan stasiun kereta yang akan membawa Alana ke
Elbonume. Mendekati kedai kopi, kesibukan makin padat, ditambah dengan surat
kabar pagi yang berterbangan menuju beberapa orang yang tengah duduk menikmati
kopi pagi itu. Sementara di seberang sana, orang-orang terlihat sibuk berlarian
kecil masuk ke stasiun bawah tanah.
Di dalam kedai, ruangan lebih hangat dibanding di luar dan paling Alana
sukai adalah aroma kue jahe yang baru keluar dari pemanggang. Gadis itu tidak
bisa menahan diri untuk tidak meraih kue jahe yang ada di toples.
Namun, dalam waktu sekejab, perhatian Alana lantas beralih ke berita
pagi hari itu. Di sana, keluarga Vaugh terlihat memenuhi layar. Calrke Vaugh,
Perdana Menteri saat ini tengah berdiri di pusat sorotan kamera.
Calrke tidak sendirian. Beberapa anggota keluarga Vaugh mengapitnya.
Mereka tersenyum ke arah kamera layaknya orang yang memiliki tujuan mulia untuk
rakyat. Wajah itu sangat Alana kenal, terutama Jade Vaugh, kekasihnya selama
beberapa tahun terakhir.
Di tempatnya, Alana bisa mendengar mengenai janji yang diberikan Clarke
dan keluarga politik lainnya. Upaya keamanan negara, berkurangnya tingkat
kemiskinan, dan berbagai prestasi pemerintah selama beberapa tahun belakang di
bawah kepimpinan pemerintahan saat ini. Mereka tersenyum bangga, seolah
pahlawan.
Di sisi lain, Alana ingat berbagai kritik yang diberikan pada oleh bibinya
melalui tulisannya. Dia ingat, sudah lama sejak Sloane tidak membahas politik
setiap bertemu dengan Alana. Alasannya jelas, itu karena kekasihnya. Sloane
tidak ingin keponakan yang sudah dia rawat sejak dia berusia 13 tahun merasa
canggung di sekitarnya.
“Apa yang ingin kamu pesan?” tanya seorang gadis dengan senyum ramah.
Gadis itu terlihat manis menurut Alana, berkulit gelap dengan sedikit rambut
ikal.
Di belakangnya, Alana bisa melihat para musang berlalu lalang mengolah
biji kopi dan beberapa peri rumah yang sibuk dengan berbagai camilan di nampan.
“Aku ingin segelas kopi susu,” ujar Alana membatalkan kue jahenya.
“Baik, 10 rown[1],”
ujar sang penjaga dengan nama Moa di saku kanannya.
Dengan cepat Alana mengeluarkan 10 koin uang dari dalam tasnya untuk
diberikan kepada gadis itu.
Tidak butuh waktu lama, Alana sudah menerima pesanannya dan keluar dari
kedai kopi.
Angin dingin kembali menyambutnya.

0 comments