City of Paper Bab 1: Part 2

  Alana baru saja keluar dari apartemen kecilnya ketika angin segera menyambutnya. Terlalu dingin, pikirnya. Jika bukan karena urusan pentin...

 




Alana baru saja keluar dari apartemen kecilnya ketika angin segera menyambutnya. Terlalu dingin, pikirnya. Jika bukan karena urusan penting yaitu pekerjaan, sudah pasti dia akan sangat malas untuk keluar rumah.

Tampaknya, Alana bukan satu-satunya orang yang memikirkan hal itu. Buktinya, meski hari itu sangat berangin, tapi jalanan pagi itu masih terlihat cukup ramai.

Selain jalanan yang ramai, langit pagi itu juga tampak gelap karena mendung dan orang-orang tampak sibuk dengan urusannya masing-masing. Di salah gedung terpampang jelas gambar seorang pria paruh baya. Alana mengenalnya sebagai salah satu politikus ternama di Espion.

Sebenarnya, Alana tidak terlalu tertarik dengan politik, jadi kekasihnya, Jade adalah seorang putra dari Adams Vaugh, kakak dari Perdana Menteri saat ini. Sementara itu, bibinya, Sloane Xeleste adalah seorang jurnalis politik dari surat kabar harian  Daily Line. Meski bukan surat kabar besar, bahkan terbilang kecil, dalam artian jika tidak mnegetahuinya, tidak semua orang tahu.

Saat kecil hingga remaja, selama libur sekolah, Alana terkadang membaca koran yang di bawa oleh bibinya. Sebaliknya, Alena, saudara kembar Alana, sangat tertarik dengan politik, itu sebabnya saat ini Alena bekerja di Kementerian Pertahanan, tepatnya Astral Intelligent Office. Divisi yang menangani kejahatan sihir lintas negara. Menurut Alana, pekerjaan itu sangat cocok untuk Alena. Saudarinya itu, sangat berani, lugas, dan cerdas.

Sebaliknya, Alana mengakui dirinya kebalikan dari Alena. Alana cenderung pendiam dan hidup dengan beradaptasi sesuai keadaan. Meski tidak kalah pintar dari Alena, di sekolah, Alana hanyalah murid pintar yang berprestasi selama sekolah. Berkat itu, Alana dikenal oleh para guru.

Sementara Alena berbeda, Alena suka membuat keributan dengan para teman sekolahnya hingga membuat kekacauan di sekolah, karena itu para guru mengenal Alena.

Mendadak, Alana merindukan saudara kembarnya yang sudah berbulan-bulan berada di luar negeri.

Angin masih berhembus dengan kuat, membuat Alana terpaksa harus mengencangkan blazer yang ia kenakan. Sebelum menuju Elbonume, tempat ia menjadi pustakawan selama beberapa tahun terakhir, Alana ingin singgah ke kedai kopi sebentar.

Setiap pagi, dia selalu ikut dalam antrean untuk membeli segelas kopi susu. Kedai itu tepat di depan stasiun kereta yang akan membawa Alana ke Elbonume. Mendekati kedai kopi, kesibukan makin padat, ditambah dengan surat kabar pagi yang berterbangan menuju beberapa orang yang tengah duduk menikmati kopi pagi itu. Sementara di seberang sana, orang-orang terlihat sibuk berlarian kecil masuk ke stasiun bawah tanah.

Di dalam kedai, ruangan lebih hangat dibanding di luar dan paling Alana sukai adalah aroma kue jahe yang baru keluar dari pemanggang. Gadis itu tidak bisa menahan diri untuk tidak meraih kue jahe yang ada di toples.

Namun, dalam waktu sekejab, perhatian Alana lantas beralih ke berita pagi hari itu. Di sana, keluarga Vaugh terlihat memenuhi layar. Calrke Vaugh, Perdana Menteri saat ini tengah berdiri di pusat sorotan kamera.

Calrke tidak sendirian. Beberapa anggota keluarga Vaugh mengapitnya. Mereka tersenyum ke arah kamera layaknya orang yang memiliki tujuan mulia untuk rakyat. Wajah itu sangat Alana kenal, terutama Jade Vaugh, kekasihnya selama beberapa tahun terakhir.

Di tempatnya, Alana bisa mendengar mengenai janji yang diberikan Clarke dan keluarga politik lainnya. Upaya keamanan negara, berkurangnya tingkat kemiskinan, dan berbagai prestasi pemerintah selama beberapa tahun belakang di bawah kepimpinan pemerintahan saat ini. Mereka tersenyum bangga, seolah pahlawan.

Di sisi lain, Alana ingat berbagai kritik yang diberikan pada oleh bibinya melalui tulisannya. Dia ingat, sudah lama sejak Sloane tidak membahas politik setiap bertemu dengan Alana. Alasannya jelas, itu karena kekasihnya. Sloane tidak ingin keponakan yang sudah dia rawat sejak dia berusia 13 tahun merasa canggung di sekitarnya.

“Apa yang ingin kamu pesan?” tanya seorang gadis dengan senyum ramah. Gadis itu terlihat manis menurut Alana, berkulit gelap dengan sedikit rambut ikal.

Di belakangnya, Alana bisa melihat para musang berlalu lalang mengolah biji kopi dan beberapa peri rumah yang sibuk dengan berbagai camilan di nampan.

“Aku ingin segelas kopi susu,” ujar Alana membatalkan kue jahenya.

“Baik, 10 rown[1],” ujar sang penjaga dengan nama Moa di saku kanannya.

Dengan cepat Alana mengeluarkan 10 koin uang dari dalam tasnya untuk diberikan kepada gadis itu.

Tidak butuh waktu lama, Alana sudah menerima pesanannya dan keluar dari kedai kopi.

Angin dingin kembali menyambutnya.



[1] Mata uang Espion


You Might Also Like

0 comments