City of Paper: Bab 2
March 25, 2026
Tidak ada yang Alana lakukan selain menatap sisa makanan di piringnya,
meski hari itu bisa jadi salah satu menu makan malam ter-enak yang bisa dia
dapatkan seminggu ini, tapi entah kenapa Alana kurang menyukainya.
“Bagaimana dengan pekerjaanmu? Apakah ada yang menarik?” Tanya Jade di
kursi seberang. Alana hampir melotot, hal menarik apa yang akan terjadi di
perpustakaan sekolah? Seorang siswa yang kesulitan menemukan letak sebuah buku?
Atau Bu Mile yang marah-marah mendapati beberapa lembar buku telah dilipat.
Sejak menjadi penjaga perpustakaan, Alana juga memahami perasaan Bu
Mile mengenai sulitnya meminta para siswa untuk tidak melipat bagian buku. Hal
ini tentunya juga tidak akan dimengerti oleh Jade.
“Apa maksudmu?” tanya Alana pelan.
Jade memasukkan satu potongan daging lagi ke dalam mulutnya sebelum
bicara. Dia mendekatkan wajahnya ke Alana padahal itu tidak perlu karena hanya
ada mereka berdua di restoran, selain pengawal Jade.
Setiap makan malam bersama Alana, Jade selalu memesan seluruh restoran
untuk mereka berdua. Setelah beberapa tahun, bukan karena Jade ingin
kenyamanan, tapi lebih karena tuntutan dia harus menyembunyikan hubungannya
dengan Alana dari publik.
Setelah bertahun-tahun menjalani hubungan dengan Jade, Alana sudah
tidak lagi merasakan kecewa atau marah dengan tuntutan keluarga Jade, karena
itu adalah fakta. Jade berasal dari keluarga terpandang, sementara Alana adalah
perempuan tanpa orang tua.
“Kamu tahu, maksudku kepala sekolah, apakah kamu pernah mendengar
kepala sekolah mengatakan sesuatu?”
Jade kembali menyandarkan ke kursi dan memotong daging di depannya.
Alana kini mengerti, Jade tengah ingin tahu apakah Caldwell akan memberikan
dukungannya untuk keluarga Vaugh. Alana mendengar, jika Adams, ayah Jade
mencalonkan diri sebagai Menteri Hukum, sementara Caldwell adalah Ketua Dewan
Keamanan Sihir sekaligus kepala sekolah Elbonume.
Mendapatkan dukungan Caldwell tentu akan lebih kuat dibanding dukungan
dari Clarke saat ini.
“Aku tidak mendengar apapun,” jawab Alana.
“Tidak mendengar apapun?” ulang Jade. Dia terdiam sejenak untuk kembali
memotong dagingnya sebelum kembali melempar pertanyaan. “Apa kamu tertarik
untuk menjadi guru mantra?” tanyanya.
“Jade!” panggil Alana setengah memohon. Dia sudah sangat bersyukur
dengan koneksi yang dimiliki Jade, ia bisa menjadi penjaga perpustakaan di
Elbonume, tapi guru mantra? Alana pikir itu terlalu berlebihan.
“Aku tahu, kamu bisa melakukannya,” ujar Jade tidak mendengar keinginan
Alana. Meski Alana memang terbilang sebagai siswa pintar di sekolah, tapi dia
bukan yang paling pintar dan guru mantra saat ini adalah guru mereka di masa
lalu. Selain itu, Alana yakin Caldwell tidak akan suka keluarga Vaugh terlalu
ikut campur dengan pemilihan guru di Elbonume.
“Kamu harus memikirkannya,” ujarnya memberi jeda sebelum kembali
melanjutkan. “Bukankah Lioren sudah cukup tua?”
Alana benar-benar telah kehilangan nafsu makannya. Dia hanya menunggu
sampai Jade menyelesaikan makanannya dan mereka berpisah malam itu.
Dengan alasan ingin mencerna makanan, Alana menolak tawaran Jade untuk
diantarkan oleh sopirnya. Jelas menggunakan mobil yang berbeda dengan Jade,
karena sekali lagi Jade tidak ingin terlihat bersama Alana atau keluarganya
melarang Jade kedapatan bersama Alana oleh kamera paparazzi.
Alana membalut tubuhnya dengan blazer lebih erat malam ini. Hembusan
angin lebih kuat dibanding pagi tadi. Tangannya hampir kedinginan, tapi dia
terus berjalan. Ada tempat yang ingin ia tuju malam itu daripada apartemen
kecil yang terasa gelap dan dingin yang selama ini dia tempati.
Tanpa sadar Alana sudah berada di depan rumah yang sangat dia kenal.
Menurutnya, rumah itu selalu terasa hangat, seperti malam yang dingin ini. Dari
luar terlihat asap yang keluar dari tungku api dan warna merah dari dalam.
Alana tersenyum kecil. Baginya, melihat rumah itu menjadi hal paling
membahagiakan setelah seharian bekerja. Dia sudah lama tidak mengunjungi rumah
itu. Dia juga tidak memiliki cukup alasan untuk datang, karena semua orang
sibuk bekerja, termasuk bibinya sebagai satu-satunya orang yang tinggal di
rumah itu.
Alana akan sangat beruntung bisa menemui bibinya malam itu. Untungnya,
lampu menyala yang menandakan ada orang di dalamnya.
“Bibi,” panggil Alana masuk ke dalam rumah. Tapi bukan Sloane yang dia
temui, melainkan Alena. Tengah duduk di depan perapian sambil makan ubi bakar.
Mendengar suara Alana, Alena lantas berbalik dan melihat siapa yang datang.
Sudah hampir enam bulan terakhir mereka bertemu. Itupun pada perayaan
ulang tahun Sloane tahun lalu.
Alena, adalah saudari yang nyaris sulit untuk Alana temui.
“Sedang apa kamu di sini?” tanya Alana terlihat kecewa, padahal
sebenarnya dia sangat merindukan Alena. Selama ini, mereka selalu saling
menjaga satu sama lain. Itulah akibatnya jika mereka tidak memiliki orang lain
untuk melindungi mereka, mereka hanya bisa bergantung satu sama lain.
“Kabarku baik Alana, senang sudah bertanya,” jawab Alena sambil
memberikan ubi yang lain untuk Alana setelah saudarinya itu mendekat.
Alana tanpa basa-basi langsung memakan makanan itu.
“Apakah Jade tidak memberimu makan?” Alena berhasil menebak jika Alana
baru saja menemui Jade, tapi gadis itu tidak ingin membahasnya.
“Sedang apa kamu Espion?” tanya Alana sebagai balasannya.
“Pertama, aku adalah warga negara Espion, dan kedua, aku tidak bisa
memberikanmu alasan pastinya karena itu adalah rahasia negara,” jawab Alena
yang membuat Alana tidak bisa berkutik.
“Dimana Bibi Sloane?”
“Bekerja, tiba-tiba dia mendapat panggilan dari kantornya.”
Kesibukan Sloane bukan suatu hal yang baru untuk keduanya, sejak kecil
mereka terbiasa dengan itu.
“Berapa lama kamu Espion?”
“Entahlah? Mungkin kali ini lebih lama,” sahut Alana sambil menikmati
ubi bakar di tangannya.
“Dimana kamu berencana tinggal?” tanya Alana yang membuat Alena
berpikir sejenak. Dia tidak mungkin tinggal di rumah bibinya lagi dan dia juga
tidak mungkin tinggal di apartemen Alana.
Meski apartemen itu cukup untuk mereka berdua, dan Alana akan menyukai gagasan Alena menginap di tempatnya, tapi Alena ingat apartemen itu adalah pemberian Jade dan hubungan Alena dan Jade tidak terlalu baik.
Maksudnya, tidak berselisih secara langsung. Tapi keluarga Jade adalah keluarga politik, sementara Alena adalah seorang agen rahasia negara. Di sisi lain, sepanjang berinteraksi dengan Jade, keduanya tidak pernah akur. Akan selalu ada perselisihan kecil di antara mereka meski hanya sebatas candaan.

0 comments