City of Paper: Bab 1 (Part 3)
March 17, 2026
Bagi kebanyakan orang, Elbonume tidak ubahnya kastil tua. Bangunannya
besar dengan dinding batu abu-abu yang mulai kusam di beberapa bagian.
Menara-menara tinggi berdiri di sudutnya, dan jendela-jendela besar berjajar rapi
menghadap halaman. Sekolah sihir itu sudah ada sejak lama dan menjadi salah
satu yang tertua di Espion.
Meski terlihat tua, Elbonume tetap berdiri kokoh. Halaman depannya
luas, dengan jalan setapak dari batu yang mengarah ke pintu utama. Beberapa
siswa berjalan melintasi halaman, sebagian masih membawa tas, sebagian lagi
terburu-buru menuju aula.
Alana berjalan melewati pintu utama dan masuk ke dalam. Lorong panjang
menyambutnya, dengan lantai batu yang sedikit mengkilap. Cahaya pagi masuk dari
jendela-jendela di sisi kanan, membentuk garis panjang di lantai.
“Pagi, Bu,” sapa beberapa siswa yang berpapasan dengannya.
“Pagi,” balas Alana sambil terus berjalan.
Ia berbelok menuju gedung selatan. Jalan penghubung antar gedung itu
lebih sepi. Tidak banyak siswa yang lewat ke arah sana di pagi hari. Dari
kejauhan, gedung selatan terlihat lebih sederhana dibanding gedung utama,
dengan dinding yang sama-sama tua.
Begitu masuk, suasananya langsung berbeda. Lorongnya lebih sunyi. Suara
langkah kaki Alana terdengar jelas. Ia melewati beberapa pintu kelas yang masih
tertutup, lalu sampai di tangga batu yang mengarah ke lantai dua. Tangga itu
terlihat sudah lama, sedikit retak di bagian sudut, tapi masih kokoh saat
diinjak.
Di lantai dua, lorongnya lebih sempit. Ujung lorong terlihat pintu
besar perpustakaan.
Saat pintu dibuka, ruangan luas langsung terlihat.
Rak-rak buku tinggi berjajar rapi, hampir memenuhi seluruh ruangan. Meja
dan kursi baca tersusun di dekat jendela besar. Cahaya matahari masuk dari
sana, menerangi sebagian besar area tanpa bantuan lampu. Udara di dalam terasa
berbeda, bau buku lama langsung tercium, bercampur dengan debu tipis yang
hampir tidak terlihat.
Perpustakaan itu terdiri dari dua lantai. Tangga kayu di salah satu
sisi mengarah ke lantai atas, tempat khusus untuk guru dan siswa senior.
Sementara di bawah, beberapa kursi masih kosong, menandakan belum banyak siswa
yang datang.
Seorang wanita gemuk, pendek, dan berkacamata muncul dari balik rak
buku.
“Selamat pagi, Bu Mile,” sapa Alana.
“Pagi,” jawabnya singkat, lalu kembali sibuk di antara rak.
Alana berjalan ke arah troli berisi buku yang sudah menunggunya setelah
meletakkan tas kerjanya secara sembarangan. Ia mendorong troli secara perlahan,
roda kecilnya berbunyi pelan di lantai.
Satu per satu buku ia ambil dan kembalikan ke rak.

0 comments