City of Paper: Bab 1 (Part 3)

  Bagi kebanyakan orang, Elbonume tidak ubahnya kastil tua. Bangunannya besar dengan dinding batu abu-abu yang mulai kusam di beberapa bagia...

 



Bagi kebanyakan orang, Elbonume tidak ubahnya kastil tua. Bangunannya besar dengan dinding batu abu-abu yang mulai kusam di beberapa bagian. Menara-menara tinggi berdiri di sudutnya, dan jendela-jendela besar berjajar rapi menghadap halaman. Sekolah sihir itu sudah ada sejak lama dan menjadi salah satu yang tertua di Espion.

Meski terlihat tua, Elbonume tetap berdiri kokoh. Halaman depannya luas, dengan jalan setapak dari batu yang mengarah ke pintu utama. Beberapa siswa berjalan melintasi halaman, sebagian masih membawa tas, sebagian lagi terburu-buru menuju aula.

Alana berjalan melewati pintu utama dan masuk ke dalam. Lorong panjang menyambutnya, dengan lantai batu yang sedikit mengkilap. Cahaya pagi masuk dari jendela-jendela di sisi kanan, membentuk garis panjang di lantai.

“Pagi, Bu,” sapa beberapa siswa yang berpapasan dengannya.

“Pagi,” balas Alana sambil terus berjalan.

Ia berbelok menuju gedung selatan. Jalan penghubung antar gedung itu lebih sepi. Tidak banyak siswa yang lewat ke arah sana di pagi hari. Dari kejauhan, gedung selatan terlihat lebih sederhana dibanding gedung utama, dengan dinding yang sama-sama tua.

Begitu masuk, suasananya langsung berbeda. Lorongnya lebih sunyi. Suara langkah kaki Alana terdengar jelas. Ia melewati beberapa pintu kelas yang masih tertutup, lalu sampai di tangga batu yang mengarah ke lantai dua. Tangga itu terlihat sudah lama, sedikit retak di bagian sudut, tapi masih kokoh saat diinjak.

Di lantai dua, lorongnya lebih sempit. Ujung lorong terlihat pintu besar perpustakaan.

Saat pintu dibuka, ruangan luas langsung terlihat.

Rak-rak buku tinggi berjajar rapi, hampir memenuhi seluruh ruangan. Meja dan kursi baca tersusun di dekat jendela besar. Cahaya matahari masuk dari sana, menerangi sebagian besar area tanpa bantuan lampu. Udara di dalam terasa berbeda, bau buku lama langsung tercium, bercampur dengan debu tipis yang hampir tidak terlihat.

Perpustakaan itu terdiri dari dua lantai. Tangga kayu di salah satu sisi mengarah ke lantai atas, tempat khusus untuk guru dan siswa senior. Sementara di bawah, beberapa kursi masih kosong, menandakan belum banyak siswa yang datang.

Seorang wanita gemuk, pendek, dan berkacamata muncul dari balik rak buku.

“Selamat pagi, Bu Mile,” sapa Alana.

“Pagi,” jawabnya singkat, lalu kembali sibuk di antara rak.

Alana berjalan ke arah troli berisi buku yang sudah menunggunya setelah meletakkan tas kerjanya secara sembarangan. Ia mendorong troli secara perlahan, roda kecilnya berbunyi pelan di lantai.

Satu per satu buku ia ambil dan kembalikan ke rak.


You Might Also Like

0 comments